PolitikNasional

Ketika Etika Diskusi Publik Tergadaikan: Refleksi Atas Insiden Abu Janda di Televisi Nasional

Insiden Abu Janda di talkshow iNews TV bukan sekadar viral. Ini cermin krisis etika berdebat publik dan tanggung jawab media. Apa dampaknya bagi demokrasi kita?

Penulis:Ahmad Alif Badawi
12 Maret 2026
Ketika Etika Diskusi Publik Tergadaikan: Refleksi Atas Insiden Abu Janda di Televisi Nasional

Bayangkan Anda sedang menonton diskusi televisi yang seharusnya mencerahkan, tiba-tiba berubah menjadi arena adu mulut yang memalukan. Itulah yang terjadi Selasa malam lalu, ketika layar kaca kita disuguhi pemandangan langka: seorang narasumber diminta keluar studio karena dianggap mengganggu ketertiban diskusi. Permadi Arya, atau yang akrab disapa Abu Janda, bukan hanya membuat pembicaraan di program Rakyat Bersuara iNews TV menjadi panas, tapi juga memantik pertanyaan mendasar: sejauh mana batasan ekspresi dalam ruang publik kita, dan siapa yang bertanggung jawab ketika dialog berubah menjadi debat kusir?

Yang menarik, insiden ini terjadi tepat ketika topik yang dibahas adalah isu geopolitik tingkat tinggi—hubungan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan pengaruhnya terhadap Indonesia. Ironisnya, diskusi tentang diplomasi internasional justru gagal mempraktikkan diplomasi paling dasar: saling menghormati antar pembicara. Bukan pertama kalinya Abu Janda dikenal dengan gaya komunikasinya yang blak-blakan, tapi kali ini konsekuensinya langsung terasa: ia harus meninggalkan studio ditengah siaran langsung, sebuah tindakan yang jarang kita saksikan dalam tayangan talkshow nasional.

Dari Diskusi Menjadi Pertunjukan: Anatomi Sebuah Kegagalan Komunikasi

Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi. Menurut pengamatan dari rekaman yang beredar, ketegangan mulai muncul ketika pembahasan menyentuh peran Amerika Serikat dalam sejarah Indonesia. Abu Janda menyampaikan pandangan yang, meskipun mungkin berdasarkan data tertentu, disampaikan dengan gaya yang provokatif. Feri Amsari, pakar hukum tata negara yang hadir sebagai narasumber lain, serta Prof. Ikrar Nusa Bhakti, mantan duta besar, tampaknya tidak menerima penyampaian tersebut begitu saja. Yang terjadi kemudian adalah spiral komunikasi yang semakin tidak produktif.

Di titik inilah moderator, Aiman Witjaksono, menghadapi dilema klasik dalam dunia penyiaran langsung: membiarkan debat berlanjut demi 'rating' atau mengambil tindakan untuk menjaga integritas diskusi. Peringatannya kepada Abu Janda ternyata tidak cukup. Kata-kata yang dianggap melampaui batas kesopanan akhirnya memaksa keputusan sulit: meminta satu narasumber keluar. Keputusan ini sendiri menjadi bahan diskusi tersendiri—apakah itu bentuk sensor atau justru penegakan aturan main?

Data yang Mengkhawatirkan: Budaya Debat Kita Semakin Memanas

Menurut survei terbaru dari Lembaga Survei Komunikasi Publik Indonesia (2025), terdapat peningkatan 40% dalam tiga tahun terakhir terkait keluhan masyarakat terhadap kualitas diskusi publik di media. Sekitar 68% responden menyatakan bahwa debat di televisi sering kali lebih mengedepankan emosi daripada substansi. Data ini mengonfirmasi apa yang mungkin sudah kita rasakan: ruang dialog kita sedang sakit.

Yang lebih mengkhawatirkan, penelitian dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa tayangan konflik verbal di media memiliki efek peniruan (modelling effect) terutama pada generasi muda. Ketika figur publik bertengkar di televisi, itu memberikan 'lisensi' bagi masyarakat untuk melakukan hal serupa di ruang digital mereka. Abu Janda mungkin hanya satu orang, tetapi gaya komunikasinya—yang viral—berpotensi dinormalisasi oleh sebagian penonton.

Opini: Ini Bukan Hanya Tentang Satu Orang, Tapi Sistem yang Membiarkannya

Di sini saya ingin menyampaikan pandangan pribadi yang mungkin kontroversial: insiden Abu Janda adalah gejala, bukan penyakitnya. Penyakit sebenarnya adalah sistem media kita yang sering kali lebih menghargai kontroversi daripada kontribusi. Produser acara talkshow tahu betul bahwa narasumber yang 'panas' akan meningkatkan engagement. Rating mungkin naik sesaat, tetapi harga yang kita bayar adalah degradasi budaya diskusi.

Pertanyaannya: apakah kita sebagai penonton juga bagian dari masalah? Ketika kita lebih sering membagikan klip pertengkaran daripada potongan diskusi yang substantif, kita memberi sinyal kepada media tentang apa yang kita inginkan. Ada semacam lingkaran setan: media menyajikan konflik, penonton mengonsumsi dan menyebarkannya, media kemudian memproduksi lebih banyak konflik.

Dampak Jangka Panjang: Ketika Kepercayaan pada Ruang Publik Menipis

Insiden seperti ini bukan tanpa konsekuensi. Pertama, terjadi erosi kepercayaan terhadap media sebagai ruang netral untuk pertukaran ide. Ketika penonton melihat acara diskusi lebih mirip pertandingan tinju verbal, mereka mulai meragukan apakah kebenaran memang menjadi tujuan utama. Kedua, narasumber-narasumber yang sebenarnya memiliki pengetahuan mendalam mungkin akan enggan tampil, khawatir akan terjebak dalam drama yang tidak substansial.

Dalam konteks demokrasi, ini masalah serius. Demokrasi sehat membutuhkan ruang publik yang kondusif untuk perdebatan ide-ide kompleks. Jika satu-satunya cara untuk didengar adalah dengan berteriak paling keras atau mengatakan hal yang paling provokatif, maka kita sedang mendorong polarisasi yang lebih dalam.

Refleksi Akhir: Mari Kembali ke Esensi Berdiskusi

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari insiden ini? Pertama, kita perlu menyadari bahwa setiap kali kita menyaksikan atau membagikan konten semacam ini, kita sedang memberikan nilai. Nilai itu bisa berupa perhatian, komentar, atau sekadar view. Kedua, sebagai masyarakat, kita perlu menuntut lebih dari media kita—bukan hanya tontonan yang menarik, tetapi diskusi yang mencerahkan.

Pada akhirnya, insiden Abu Janda mengingatkan kita pada sesuatu yang mendasar: perbedaan pendapat adalah jantung demokrasi, tetapi cara kita menyampaikan perbedaan itu adalah cermin peradaban kita. Mungkin sudah waktunya kita bertanya pada diri sendiri: jenis ruang publik seperti apa yang ingin kita wariskan untuk generasi berikutnya? Apakah kita ingin mereka tumbuh dalam lingkungan di mana mengalahkan lawan bicara lebih penting daripada memahami perspektif mereka?

Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik. Bukan dengan menyalahkan satu pihak secara berlebihan, tetapi dengan merefleksikan bagaimana kita semua—media, narasumber, dan penonton—dapat membangun budaya diskusi yang lebih sehat. Karena ketika etika diskusi publik tergadaikan, yang terancam bukan hanya rating sebuah acara televisi, tetapi fondasi dialog dalam masyarakat demokratis kita.

Dipublikasikan: 12 Maret 2026, 05:16
Diperbarui: 12 Maret 2026, 12:00
Ketika Etika Diskusi Publik Tergadaikan: Refleksi Atas Insiden Abu Janda di Televisi Nasional