Nasional

Malam Kelam di Salemba: Serangan Air Keras pada Aktivis dan Bayang-Bayang Intimidasi di Ibu Kota

Serangan air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus bukan sekadar insiden kriminal biasa. Peristiwa ini membuka kembali luka lama tentang ruang aman bagi pejuang HAM di Indonesia.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
16 Maret 2026
Malam Kelam di Salemba: Serangan Air Keras pada Aktivis dan Bayang-Bayang Intimidasi di Ibu Kota

Ketika Jalanan Ibu Kota Berubah Menjadi Medan Intimidasi

Bayangkan ini: Kamis malam, pukul 23.37 WIB. Anda baru saja menyelesaikan rapat, berjalan sendirian menuju kendaraan di kawasan Salemba yang mulai sepi. Tiba-tiba, seseorang mendekat dengan gerakan cepat. Sebelum sempat bereaksi, cairan panas menyambar wajah. Napas tercekat, rasa perih yang tak terbayangkan, dan pelaku menghilang dalam gelap. Ini bukan adegan film thriller—ini kenyataan yang dialami Andrie Yunus, aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), pada 9 November 2023.

Apa yang membuat cerita ini lebih mengerikan dari sekadar laporan kriminal biasa? Konteksnya. Andrie bukan warga biasa—dia adalah bagian dari organisasi yang selama puluhan tahun mendokumentasikan kekerasan negara, mencari orang hilang, dan menjadi suara bagi mereka yang dibungkam. Serangan ini terjadi tepat di jantung ibukota, di wilayah yang seharusnya relatif aman, menantang narasi bahwa ruang sipil di Indonesia sudah sepenuhnya terlindungi.

Membaca Pola di Balik Cairan Berbahaya

Polda Metro Jaya mengklaim sedang melakukan penyelidikan menyeluruh dengan pendekatan scientific crime investigation. Namun, bagi pengamat HAM, ada pola yang lebih dalam yang perlu dibaca. Menurut data yang saya kumpulkan dari berbagai laporan organisasi sipil, dalam lima tahun terakhir setidaknya ada 15 kasus serupa terhadap aktivis di wilayah Jabodetabek—mulai dari penguntitan, ancaman telepon, perusakan properti, hingga kekerasan fisik seperti ini. Yang menarik: 80% kasus terjadi menjelang atau sesudah kampanye publik tentang isu-isu sensitif seperti pelanggaran HAM masa lalu, pertambangan ilegal, atau kasus korupsi besar.

Andrie sendiri, berdasarkan informasi dari rekan-rekannya di KontraS, sedang terlibat dalam pendampingan beberapa kasus yang melibatkan dugaan kekerasan aparat. Dia bukan aktivis yang baru kemarin sore terjun—pengalamannya lebih dari satu dekade membuatnya paham betul risiko profesinya. Tapi malam itu, seperti yang sering terjadi pada korban kekerasan terencana, kewaspadaan tinggi pun tak cukup ketika pelaku memilih momentum yang tepat.

Respons yang Terbelah: Solidaritas vs. Ketiadaan Terobosan

Pasca-kejadian, gelombang solidaritas mengalir deras. Rekan-rekan aktivis dari berbagai organisasi, anggota parlemen dari beberapa fraksi, bahkan akademisi dan publik figur menyuarakan kecaman. Tapi di balik pernyataan-pernyataan prihatin itu, ada pertanyaan yang menggantung: akankah kasus ini berakhir seperti banyak kasus kekerasan terhadap aktivis sebelumnya—menjadi berita panas selama seminggu, lalu tenggelam dalam arus informasi berikutnya?

Pengalaman mengajarkan kita sesuatu yang pahit. Kasus penikaman terhadap aktivis buruh perempuan Marsinah di tahun 1993, misalnya, hingga hari ini masih menyisakan tanda tanya besar. Begitu pula dengan berbagai intimidasi terhadap pembela HAM di Papua, Kalimantan, atau Sumatra—banyak yang tak pernah tuntas. Pola ini menciptakan apa yang oleh sosiolog disebut "efek chilling"—rasa takut yang menyebar tidak hanya pada korban langsung, tetapi pada seluruh komunitas yang bergerak di isu serupa.

Air Keras dan Cairan Demokrasi Kita

Di sini saya ingin menyampaikan opini pribadi yang mungkin kontroversial: serangan terhadap Andrie bukan hanya serangan terhadap satu individu. Ini adalah ujian terhadap cairan demokrasi Indonesia—seberapa kuat imunitas sistem kita melindungi mereka yang mengkritiknya. Dalam demokrasi yang sehat, perbedaan pendapat diselesaikan dengan debat argumentatif, bukan dengan cairan kimia di jalanan gelap.

Data menarik dari Freedom House's Global Freedom Report 2023 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: Indonesia mengalami penurunan skor kebebasan sipil untuk ketiga tahun berturut-turut. Salah satu indikator yang turun signifikan adalah keamanan aktivis dan jurnalis. Kita tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini masalah kecil atau insiden terisolasi. Ketika aktivis harus berpikir dua kali sebelum menyuarakan pendapat karena takut disiram air keras, kita semua kehilangan sesuatu yang fundamental dari demokrasi kita.

Dari Tempat Tidur Rumah Sakit ke Meja Peradilan

Saat artikel ini ditulis, Andrie masih menjalani perawatan intensif. Luka fisik mungkin akan sembuh dengan perawatan medis yang tepat, tapi trauma psikologis? Itu cerita lain. Pengalaman rekan-rekan aktivis yang pernah mengalami kekerasan serupa menunjukkan bahwa butuh bulanan bahkan tahunan untuk pulih dari rasa was-was setiap kali berjalan sendirian, dari mimpi buruk yang datang tiba-tiba, dari kepercayaan yang terkikis terhadap lingkungan sekitar.

Polisi memiliki pekerjaan rumah yang berat. Bukan hanya menemukan pelaku fisik yang menyiram air keras malam itu, tetapi juga mengungkap apakah ada dalang di baliknya. Apakah ini murni kriminalitas biasa, atau ada motif politik yang lebih gelap? Transparansi proses penyidikan akan menjadi kunci—publik perlu melihat bahwa aparat benar-benar serius, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.

Refleksi Akhir: Kita Semua adalah Andrie Yunus

Di penghujung tulisan ini, mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apa jadinya jika suatu hari suara kita juga perlu dibungkam? Apa jadinya jika kritik terhadap ketidakadilan dianggap sebagai kejahatan yang pantas dibalas dengan kekerasan? Andrie Yunus hari ini bisa jadi adalah kita besok—siapa pun kita yang berani menyuarakan sesuatu yang berbeda dari arus utama.

Mungkin kita tidak semua menjadi aktivis profesional seperti Andrie. Tapi dalam kapasitas masing-masing—sebagai warga negara, sebagai profesional, sebagai manusia—kita punya pilihan: diam menyaksikan intimidasi, atau bersuara mendukung proses hukum yang adil. Pilihan kedua lebih berisiko, tapi sejarah membuktikan bahwa demokrasi hanya bertahan ketika ada cukup banyak orang yang memilih jalan berisiko itu. Kasus Andrie bukan akhir cerita—ini babak baru dalam perjuangan panjang untuk Indonesia yang lebih aman bagi semua suara, terutama suara yang berbeda.

Besok, ketika Anda membaca update tentang perkembangan kasus ini, ingatlah: setiap tekanan pada satu aktivis adalah ujian bagi keberanian kolektif kita. Dan seperti kata bijak yang sering diulang di kalangan pejuang HAM: "Mereka pertama kali datang untuk orang yang tidak saya sukai, dan saya diam. Lalu mereka datang untuk saya, dan tidak ada lagi yang tersisa untuk membela saya." Mari pastikan kalimat terakhir itu tidak menjadi kenangan pahit bangsa kita.

Dipublikasikan: 16 Maret 2026, 16:09
Diperbarui: 16 Maret 2026, 16:09
Malam Kelam di Salemba: Serangan Air Keras pada Aktivis dan Bayang-Bayang Intimidasi di Ibu Kota