PolitikKeuangan

Rp330 Miliar di 2025: Ketika Bank Jakarta 'Pesta' di Tengah Laba yang Merosot Tajam

Kritik tajam anggota DPRD DKI Justin Adrian terhadap Bank Jakarta yang menggelar acara mewah berbiaya besar di tengah penurunan laba drastis dan gangguan sistem yang meresahkan nasabah.

Penulis:zanfuu
27 April 2026
Rp330 Miliar di 2025: Ketika Bank Jakarta 'Pesta' di Tengah Laba yang Merosot Tajam

Bayangkan Anda sedang berjuang keras menaikkan nilai tabungan, tapi manajemen bank tempat Anda menabung justru menggelar pesta megah dengan artis papan atas. Rasanya seperti menonton film horor yang absurd, kan? Inilah yang terjadi di Bank Jakarta, atau yang dulu kita kenal sebagai Bank DKI. Di saat laporan keuangan mereka menampilkan angka merah yang mengkhawatirkan, mereka malah memilih untuk 'berpesta' di Jakarta International Convention Center (JICC). Sebuah ironi yang keras dan perlu kita bedah bersama.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Justin Adrian Untayana, baru-baru ini melontarkan kritik pedas yang sebenarnya bukan hanya sekadar omongan. Ini adalah alarm serius bagi kita semua, terutama para nasabah setia Bank Jakarta. Justin menyorot acara Employee Gathering 2026 yang menghadirkan Sheila On 7 hingga Wika Salim. Pertanyaan kuncinya: apakah pantas sebuah perusahaan yang kinerjanya sedang limbung menggelar selebrasi sebesar itu?

Kinerja Keuangan: Dari Triliunan ke Ratusan Miliar

Data yang disampaikan Justin bukanlah hoaks atau fitnah belaka. Laporan Keuangan Tahunan Bank Jakarta menunjukkan tren yang sangat memprihatinkan. Di tahun 2023, bank ini masih bisa meraup laba bersih sebesar Rp1,02 triliun. Angka yang terbilang gemilang untuk sebuah bank daerah. Namun, setahun kemudian, laba itu ambles menjadi Rp779 miliar. Dan yang lebih mencengangkan, di tahun 2025, laba bersih mereka hanya tersisa Rp330 miliar.

“Dari laporan keuangan tahunannya saja, bisa dilihat kalau labanya itu menurun. Pada tahun 2023, Bank Jakarta memang meraup laba bersih sebesar Rp1.02 triliun. Tapi, di tahun berikutnya angka tersebut drop jauh ke Rp779 miliar, dan di 2025 turun lagi ke Rp330 miliar,” ujar Justin dengan nada heran.

Penurunan laba sebesar ini bukanlah hal yang sepele. Jika diibaratkan, ini seperti seorang atlet yang tadinya juara olimpiade, lalu setahun kemudian hanya bisa finish di posisi keenam, dan tahun depannya malah tidak lolos kualifikasi. Tentu, dalam situasi seperti ini, fokus utama perusahaan seharusnya adalah melakukan efisiensi, memperbaiki fundamental bisnis, dan mengembalikan kepercayaan publik. Bukan malah menghambur-hamburkan uang untuk pesta yang tidak jelas output-nya.

Biang Kerok Lain: Gangguan Sistem dan Nasabah yang Terlantar

Kritik Justin tidak berhenti di soal keuangan. Ia juga menyoroti masalah teknis yang sudah menjadi rahasia umum: gangguan sistem layanan Bank Jakarta. Masalah ini bukan kali pertama terjadi. Di tahun sebelumnya, saat warga Jakarta bersiap merayakan Lebaran dan berbelanja, sistem Bank Jakarta tiba-tiba down. Bukan hanya mengganggu, tetapi ada juga dugaan peretasan yang gagal dicegah.

“Jangan lupa, layanan Bank Jakarta juga pernah error tahun lalu pada bulan-bulan ini. Di tengah-tengah semarak warga Jakarta yang ingin merayakan Lebaran dan pergi belanja, sistemnya malah down. Setelah diusut, kemudian ada juga dugaan peretasan yang gagal dicegah oleh Bank Jakarta,” tambahnya.

Yang lebih menyebalkan, hingga kini masalah itu belum tuntas. Banyak nasabah yang masih mengeluhkan layanan yang error, terutama di waktu-waktu krusial seperti saat gajian. Alih-alih senang karena gaji telah masuk, nasabah justru harus kesal karena tidak bisa mengakses uang mereka sendiri. Ini adalah kegagalan layanan yang sangat fundamental. Bayangkan, Anda sudah susah payah bekerja, lalu bank yang Anda percaya justru membuat Anda stres.

Opini: Prioritas yang Salah dan Dampak Jangka Panjang

Menurut saya, apa yang dilakukan Bank Jakarta adalah contoh klasik dari misprioritas. Di saat perusahaan harus berhemat dan fokus pada perbaikan internal, mereka malah memilih untuk 'pamer' dengan acara mewah. Dampaknya bukan hanya pada keuangan perusahaan, tetapi juga pada kepercayaan publik.

Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa kepercayaan nasabah adalah aset paling berharga bagi bank. Ketika nasabah mulai ragu, mereka akan pindah ke bank lain. Dan ini akan menjadi bola salju yang sulit dihentikan. Bank Jakarta harus sadar bahwa mereka sekarang bersaing dengan bank-bank digital yang menawarkan layanan cepat dan andal. Dengan kondisi seperti ini, apa daya saing yang mereka miliki?

“Harusnya, Bank Jakarta berbenah diri, bukannya berpesta-pora atas prestasi rendah. Ada target-target yang perlu dikejar, perbaikan-perbaikan sistem yang dilakukan, dan kepercayaan nasabah yang dipulihkan kembali,” tegas Justin.

Saya setuju dengan Justin. Alih-alih menghabiskan uang untuk artis dan venue mewah, lebih baik dana itu dialokasikan untuk meningkatkan infrastruktur TI dan pelayanan nasabah. Investasi pada sistem yang andal akan memberikan dampak jangka panjang yang jauh lebih besar daripada pesta yang hanya berlangsung sehari.

Refleksi Akhir: Nasabah Berhak Mendapatkan yang Terbaik

Pada akhirnya, semua ini kembali kepada kita sebagai nasabah. Kita berhak mendapatkan layanan perbankan yang prima, aman, dan andal. Kritik yang disampaikan Justin Adrian adalah suara kita semua yang kecewa. Ini adalah momen bagi Bank Jakarta untuk introspeksi. Apakah mereka ingin terus menjadi bank yang 'pesta' di atas puing-puing kepercayaan nasabah, atau mereka mau bangkit dan membuktikan bahwa mereka bisa menjadi lebih baik?

Mari kita tunggu langkah nyata dari manajemen Bank Jakarta. Apakah mereka akan terus menyia-nyiakan kesempatan, atau justru menjadikan kritik ini sebagai momentum untuk berubah? Yang jelas, nasabah sudah semakin cerdas dan tidak akan tinggal diam. Kita semua berharap Bank Jakarta bisa segera berbenah dan kembali menjadi bank kebanggaan warga Jakarta.

Narahubung:

Justin Adrian Untayana
Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta
Fraksi PSI
+62 812-9167-7888

Dipublikasikan: 27 April 2026, 03:19
Diperbarui: 27 April 2026, 03:19
Rp330 Miliar di 2025: Ketika Bank Jakarta 'Pesta' di Tengah Laba yang Merosot Tajam